ArenaLTE.com – Apakah Anda termasuk orang yang tidak begitu peduli terhadap keamanan perangkat mobile sendiri? Jika demikian, sepertinya informasi dari agen federasi asal Amerika, FBI, patut diperhitungkan. Dalam laporan terbarunya, agen federasi menyebutkan bahwa akibat dari serangan virus ransomeware terhadap perangkat pengguna telah mencapai kerugian sekitar USD209 juta.

Para korban kejahatan virus ini, diungkapkan harus mengeluarkan biaya hingga 209 juta USD hanya untuk kuartal pertama pada tahun 2016. Sedangkan tahun lalu 2015 selama satu tahun penuh menghabiskan sebesar 25 juta USD.  Dalam sejarahnya terdapat dua tipe ransomware, yaitu blocking ransomware (menolak penggunaan komputer secara normal) dan crypto ransomware (mengenkripsi data pribadi Anda sehingga tidak dapat dibaca).

Namun dalam beberapa waktu terakhir, mulai bermunculan gabungan antara kedua tipe ransomware tersebut. Contohnya, sekarang ada jenis crypto ransomware yang menghambat komputer yang terinfeksi untuk mengakses internet sampai pembayaran dilakukan kepada para hackers.

Pembatas antara perangkat yang menjadi target juga semakin tidak jelas – beberapa  ransomware selular menyerang komputer sekaligus smartphone. Dan karena beberapa smartphone menggunakan OS Android, kita juga mulai menemui kasus-kasus (seperti jenis FLocker) yang mengalami penularan virus yang melompat-lompat dari satu perangkat ke perangkat IoT lainnya seperti smart TV, dengan ransomware yang meminta iTunes gift card sebesar 200 USD sebelum dapat menonton final piala NHL Stanley.

Menurut Gartner, pada tahun 2016 akan terdapat 6,4 milliar “things” (alat-alat) yang akan terkoneksi dan angka tersebut akan berkembang sampai estimasi 21 miliar pada tahun 2020. Bagi para penyerang, itu berarti hanya terdapat satu hal – akan lebih banyak calon korban.

Malware berevolusi dari waktu ke waktu, dan ransomware yang berpindah dari komputer ke perangkat pintar lainnya menjadi langkah yang logis dalam evolusi mereka selanjutnya. Kita sudah melihat dari sisi pergerakan melalui jaringan untuk SamSam dan ZCryptor sebagai kelompok sampel. Beberapa turunan dari malware tersebut sekarang menunjukkan perilaku evolusi seperti-worm pada teori Darwin, ibaratnya seperti ketika ikan-ikan meninggalkan laut dan mulai menggunakan sirip mereka sebagai kaki untuk berjalan, menjelajahi area yang tidak diketahui.

Evolusi ini akan terjadi lebih cepat daripada seharusnya hanya karena satu alasan sederhana– para korban membayar tebusan yang diminta oleh para hackers. Tidak semua korban melakukannya, tapi hal itu sudah cukup agar bisnis tetap berjalan. Tanpa diragukan lagi, para pencipta ransomware menjalankan bisnis mereka seperti perusahaan, dan menginvestasikan kembali sebagian besar uang tebusan yang dibayar ke R&D.