ArenaLTE.com – Periode 2015 – 2016 menjadi masa yang berat bagi industri infrastruktur seluler. Pasalnya sejumlah operator diketahui telah mengetatkan budget investasi untuk jaringan. Imbasnya tentu ada, yakni untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir, pasar RAN (Radio Access Network) mengalami penurunan hingga dua digit pada kuartal pertama 2016, hal ini berdasarkan laporan perusahaan analis Dell’Oro Group.

RAN selama ini dianggap sebagai elemen yang paling menggiurkan bagi para vendor dalam menjajakan solusinya ke operator seluler. RAN identik dengan gelar BTS (Base Transceiver Station) dan bernilai jauh lebih tinggi ketimbang elemen transmisi, baik itu Microwave dan serat optik. Turunnya pasar permintaan BTS yang terjadi di semua wilayah tentu menjadi pukulan bagi vendor-vendor jaringan. Total pasar RAN diperkirakan akan menurun 8 persen di sepanjang 2016.

Sampai kuartal keempat 2015, kinerja pasar radio access network secara umum masih bagus, namun secara drastis mengalami anjlok sampai dua digit pada tahun 2016. “Hal ini salah satunya disebabkan perubahan permintaan dan kondisi makro ekonomi yang terjadi di dunia,” ujar Stefan Pongratz, analis di Dell’Oro Group. Meski begitu Pongratz masih meyakini bahwa pengiriman RAN dari vendor asal Cina masih cukup memberi rasa optimis pada pasar. Secara umum, penjualan perangkat small cell masih cukup baik, namun tetap tidak bisa mengimbangi arus penurunan makro pada pasar global.

Dell’Oro Group dalam laporannya menyebut Huawei, Ericsson, dan Nokia menyumbang sekitar 80 persen poris pasar macro cell RAN. Meski belum ada keterkaitan secara langsung, lesunya pasar pada vendor jaringan bisa tercermin dari terjadinya pemangkasan karyawan pada dua vendor besar asal Eropa, yakni Nokia dan Ericsson. Seperti diberitakan baru-baru ini, Nokia tengah bersiap memangkas 15.000 karyawan di seluruh dunia, begitu juga dengan Ericsson yang sejak 2014 telah memulai pemangkasan karyawan secara bertahap.