ArenaLTE.com – Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah melakukan pengaturan biaya interkoneksi antar operator Tanah Air. Penurunan biaya ini dilakukan dengan sistem 18 skenario panggilan dari layanan seluler, yang disebutkan wajib turun mencapai 26%. Penurunan biaya interkoneksi ini sejatinya memang bisa dianggap sebagai pengurangan biaya masuk operator, namun ternyata tidak berpengaruh besar terhadap operator itu sendiri.

Alexander Rusli, President Director Indosat Ooredoo, menjelaskan bahwa dampak dalam jangka pendek dari penurunan biaya interkoneksi memang tidak. Namun, dirinya tidak bisa memastikan akan adanya dampak panjang dari penerapan aturan penurunan tarif interkoneksi ini nantinya.

Medium to long term tentunya akan berdampak kepada ritel. Kalau jangka pendek tidak. Kalau terkait efisiensi belum ketauan soalnya angkanya tidak terlalu signifikan soalnya ada penurunan,” jelasnya disela acara Indosat mengajak anak muda main pasar modal, di Jakarta.

biaya interkoneksi

Dirinya juga menambahkan tentang dampak aturan penurunan ini, memang akan lebih besar dapat terlihat dari revenue perusahaan. Karena hal ini mengartikan bahwa akan semakin memperkecil pemasukan operator, tetapi ada sisi lain yang bisa dipandang dari regulasi yang baru ditetapkan Pemerintah ini dari dampak biaya yang dikeluarkan.

“Jadi yang harus dilihat dari sudut pandang revenue jelas akan berkurang. Karena pengali-nya lebih kecil, tetapi tentunya cost (biaya) akan berkurang, nah dampak netnya akan dihitung,” ungkap Alexander. Dirinya juga mengungkapkan penyesalan akan mundurnya peraturan ini, karena seharusnya regulasi tersebut sudah rampung sejak 2015 lalu.

Meski regulasi ditetapkan lewat dari waktunya, namun Alexander mengungkapkan terimakasih karena saat ini sudah ada kepastian atau payung hukum dari Pemerintah tentang tarif ini. “Kita pertama-tama terimakasih karena keputusan sudah diambil. Kan selama ini tidak ada kepastian,” jelasnya.

Indosat Ooredoo terlihat tidak ambil pusing soal penurunan tarif interkoneksi yang diminta Pemerintah mencapai 26%. Pasalnya, perusahaan justru telah melakukan hal yang lebih ektrim dalam program Rp1 yang telah dijalankan lebih dahulu. ”Kalau mau nya kami sebenernya lebih besar, tetapi sebagai starting point tidak apa-apa,” tambah Alex.

Ia menuturkan bahwa penurunan tarif interkoneksi ini tidak berpengaruh besar terhadap perusahaan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan pembangunan jaringan ke daerah tetap bisa dilakukan.”Makanya program 1rp lebih penting makanya kita kerjakan ada atau tidak perubahan interkoneksi.” tukasnya.