ArenaLTE.com – Perilaku individu merupakan indikator yang signifikan dalam risiko penyebaran malware, demikian hasil laporan dari Mobile Trends Report yang baru-baru ini dirilis Allot Communications dan Kaspersky Lab. Dengan menggunakan berbagai profil perilaku, laporan analisis korelasi antara aplikasi mobile dan penggunaan URL membawa potensi besarnya masuknya malware. Kenali perilaku bisa menjadi indikator mobile security.

Temuan menunjukkan bahwa perilaku individu merupakan indikator signifikan dan bahkan menentukan risiko malware. Laporan ini juga menunjukkan bahwa CSP (content service provider) diposisikan secara unik untuk menjaga pengguna smartphone beresiko dengan layanan Security-as-a-Service yang disampaikan dari jaringan atau fasilitas cloud mereka.

Temuan yang dipaparkan dari report juga mengutarakan bahwa risiko malware potensial dipengaruhi oleh perilaku online pengguna, penggunaan aplikasi atau URL sendiri. Dengan kata lain, itu bukan hanya aplikasi, melainkan bagaimana Anda menggunakannya.

Sementara pengguna dari kalangan bisnis menampilkan perilaku online paling berisiko. 79 persen dari pengusaha pria dan 67 persen dari pengusaha wanita menggunakan aplikasi yang berpotensi berisiko terpapar malware setiap harinya. Kalangan pemuda juga berisiko tinggi, dimana 65 persen dari mereka menggunakan aplikasi yang berpotensi berisiko setiap hari. Sementara untuk tren download aplikasi seluler kini sudah cukup terlindungi, hanya saja untuk penggunaan berkelanjutan kerap mereka (pengguna) tidak memikirkan proteksi, ini juga membuat pengguna rawan diserang malware pada smartphonenya.

“Temuan pada Mobile Trend jelas menunjukkan bahwa menjaga pengguna pada tingkat jaringan akan menjadi metode yang paling efektif untuk melindungi pada jenis ancaman mobile, sebagai langkah keamanan dapat memberikan payung pelindung untuk semua aktivitas online,” kata Yani Sulkes, wakil presiden asosiasi untuk pemasaran Allot Communications.

Lepas dari itu, pihak operator seluler juga diposisikan untuk memberikan perlindungan kepada konsumen pribadi dan bisnis. “Kami melihat kesempatan emas bagi operator seluler untuk mengidentifikasi dan menjangkau pelanggan pada beragam tingkatan risiko, menargetkan mereka dengan personalisasi Security-as-a-Service dari jaringan atau cloud,” kata Yani.

Penelitian ini menganalisis catatan mobile data dari sampel acak dari 500 ribu pengguna smartphone selama periode 7 hari. Sample pengguna smartphone mencakup pengguna Android, iOS dan Windows Phone. Para ahli malware pada Kaspersky Lab ditugaskan menelusuri dari 500 URL, sedangkan Allot memantau penggunaan 500 aplikasi dalam sampel dan juga diklasifikasikan masing-masing aplikasi dan URL sampel sebagai “aman” atau “berisiko.”