ArenaLTE.com – Ketika melakukan kunjungan ke markas Alibaba di Tiongkok pekan lalu, Rudiantara mengajak Jack Ma masuk dalam dewan pengarah eCommerce Indonesia seperti yang dirancang dalam roadmap eCommerce beberapa bulan lalu.

“Kita akan punya Roadmap eCommerce. Dalam roadmap itu juga diamanahkan dibentuk tim pengarah atau steering committee yang terdiri dari para menteri dan ketua/kepala lembaga. Nah, untuk confidence dan jelas arahnya, perlu ada prominent tokoh dunia yang berhasil untuk di posisikan sebagai Penasehat sekaliber Jack Ma,” katanya.

Namun niat Rudiantara tersebut menuai kontroversi. Bahkan menurut Kamilov Sagala, Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI), sepak terjang dari Rudiantara sudah melenceng dari Nawacita dalam mengemban jabatan menteri komunikasi dan informatika (Menkominfo).

“Saya perhatikan selama hampir dua tahun sebagai Menkominfo, Rudiantara melenceng dari Nawacita dan Trisakti, khususnya dalam mewujudkan kemandiran ekonomi berbasis teknologi digital di Indonesia,” ujar Kamilov (7/9/2016).

Diungkapkannya, bukti melencengnya Rudiantara dari Nawacita dan Trisakti bisa dilihat dari rekam jejak kebijakan yang diambilnya selama dua tahun terakhir. Dimulai dari kontroversi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) smartphone 4G, rencana uji coba balon Google, revisi biaya interkoneksi dan aturan telekomunikasi serta frekuensi yang dianggap pro asing. Terakhir, ide mengangkat bos Alibaba, Jack Ma, masuk dalam Steering Committee (SC/Dewan Pengarah) untuk Road Map eCommerce Indonesia.

“Bagi saya aksi yang terakhir (mengajak Jack Ma), itu sudah cukuplah. Ini kalau dibiarkan bisa habis ekonomi digital NKRI dijual murah semua ke asing. Jokowi harus lihat kalau aksi yang terlihat populis ini bisa membahayakan kedaulatan ekonomi digital dan membuat kompetisi tak sehat di industri,” jelasnya.

Menurutnya, ide mengangkat Jack Ma sebagai dewan pengarah road map eCommerce seperti memberikan karpet merah bagi pengusaha asal Tiongkok itu untuk menguasai eCommerce Indonesia.

“Pemain asing yang mau menggarap eCommerce Indonesia bukan hanya dari Tiongkok, Anda bisa lihat dari pemodal ventura yang gelontorkan uang ke startup lokal. Kita ini ibarat gadis cantik yang diburu banyak pemuda, kenapa kita tak pintar-pintar bawa diri untuk meningkatkan valuasi? Bicara UKM, pelaku usaha Indonesia ini beda dengan Tiongkok atau negara manapun, jadi alasan yang dikemukakan itu tak masuk akal selain untuk popularitas tanpa memikirkan efeknya ke industri,” keluhnya.

Diingatkannya, Tiongkok tengah membangun kembali kejayaan jalan sutra (silk road) dengan adanya eCommerce. Jika Indonesia tak pintar memposisikan diri dan menjaga kedaulatan, bisa berubah hanya menjadi bagian kecil dari perdagangan online internasional bukan sebagai pemain utama.

“Alibaba itu tengah merintis eSilk Road, kita harus melihat semuanya secara keseluruhan. Presiden Jokowi punya harapan Indonesia menjadi energi digital Asia. Apa dengan cara-cara yang ditunjukkan Rudiantara itu tercapai? Baiknya dievaluasi lagi ajakan terhadap Jack Ma itu,” sarannya.

Indonesia disebut-sebut memiliki potensi besar untuk eCommerce. Pada tahun 2015, pengguna internet di Indonesia mencapai 93,4 juta jiwa, meningkat cukup pesat jika dibandingkan dengan 88,1 juta jiwa pada 2014.

Potensi e-commerce terlihat dari angka 77% dari penggunaan internet digunakan untuk mencari informasi produk dan berbelanja online, pelanggan online shop yang mencapai 8,7 juta orang, dan  nilai transaksi yang diprediksi mencapai US$ 4,89 miliar pada tahun 2016. Pada 2020, volume e-commerce diprediksi dapat mencapai US$130 miliar.