ArenaLTE.com – Era perkembangan koneksi data sudah semakin meningkat, bukan lagi hanya tingkatan adopsi teknologi yang sudah ditingkat berapa. Perkembangan tersebut kini sudah masuk dalam tahap jangkauan tidak terbatas, apakah perseorangan atau sistem. Salah satu contohnya adalah Smart City, sebuah istilah yang digunakan untuk  mendefinisikan  jangkauan perkembangan teknologi yang sudah semakin luas.

Adopsi teknologi jaringan yang sudah semakin canggih di Indonesia, memaksa setiap industri harus mengikutinya termasuk oleh Pemerintah di satu kota. Meski memiliki risiko dan perhitungan matang, Smart City bisa dibilang adalah sebagai jawaban dan langkah yang baik Pemerintah untuk memudahkan masyarakat yang sudah semakin melek teknologi.

Memanfaatkan teknologi digital atau Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) untuk meningkatkan kualitas dan kinerja layanan perkotaan, serta mengurangi biaya dan konsumsi sumber daya, dan sebagai tindakan yang lebih aktif dan efektif dari Pemerintah dengan penduduknya.
Baca juga: 5 Pilar Pendorong Indonesia yang Digital dan Terhubung

Namun, seperti disebutkan diatas bahwa sebelum mendalami potensi dari Smart Ciy, penting untuk mempertimbangkan pondasi dimana Smart City telah dibangun yang merupakan konektivitas. Internet of Things (IoT) sebagai salah satu buah dari konektivitas, telah banyak dibahas sebagai salah satu dasar yang memungkinkan terciptanya Smart City.

IoT adalah sebuah jaringan dari berbagai obyek yang dilengkapi dengan elektronik, perangkat lunak, sensor, dan konektivitas internet, yang memungkinkan obyek tersebut mengumpulkan dan bertukar data. Selangkah maju dari Internet of Things, Cisco mendefinisikan Internet of Everything (IoE), sebagai jaringan koneksi antara manusia, proses, dan obyek.

Sebagai perbandingan, IoT mengacu pada jaringan koneksi dari obyek fisik, namun tidak termasuk manusia dan proses. Interkonektivitas dari IoT ini akan memungkinkan otomatisasi dalam memperluas area Smart City, yang meliputi layanan pemerintah, transportasi dan pengelolaan lalu lintas, kesehatan, air dan limbah.

Dengan berkembangnya berbagai teknologi baru seperti layanan berbasis cloud, IoT, dan meningkatnya penggunaan smartphone, konektivitas yang luas ini membawa potensi dan nilai ekonomi yang besar. Pada penelitian bertajuk IoE Value at Stake dari Cisco, diprediksikan bahwa dengan mewujudkan konektivitas baru antara masyarakat, proses, data, dan perangkat, lembaga pemerintah dapat menghemat biaya, meningkatkan produktivitas karyawan, menghasilkan pendapatan baru tanpa menaikkan pajak, selagi mendatangkan keuntungan bagi masyarakat.

Cisco memperkirakan sektor publik global akan memiliki potensi senilai 4,6 triliun USD, dan jika digabungkan dengan perkiraan Cisco terhadap sektor swasta senilai 14,4 triliun USD, maka akan mencapai nilai sebesar 19 triliun USD di sepanjang tahun 2013 – 2022. Demikian seperti keterangan tertullis yang diterimas Redaksi, di Jakarta, Jumat (27/11/2015).

Dengan Indonesia yang tengah memasuki era digitalisasi, potensi dan nilai ekonomi dari konektivitas dan IoT mulai terlihat. Berdasarkan hasil riset 2014 dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), menyatakan bahwa pengguna internet di Indonesia tumbuh sebanyak 16.9 juta orang terhitung sejak tahun 2013.

Secara keseluruhan, jumlahnya mencapai 88.1 juta pengguna dari 71.2 pengguna sejak tahun 2013. Pencapaian ini merupakan indikasi dari besarnya potensi konektivitas untuk Indonesia, dan bagaimana konektivitas dapat berfungsi sebagai pondasi pengembangan kota dan negara yang lebih cerdas.