ArenaLTE.com – Delapan dari sepuluh operator seluler yang saat ini menjalankan layanan 4G LTE (Long Term Evolution) disebutkan telah menggunakan teknologi LTE-A (Advanced). Demikian pernyataan yang disebutkan oleh lembaga riset dan analis IHS Markit yang berkantor di London, Inggris. Lebih tepatnya, 84 persen responden dalam survei LTE yang mengambil responden dari pihak operator menyatakan telah menjalankan LTE-A. Hal tersebut merupakan peningkatan drastis, mengingat tahun lalu aktivasi layanan LTE-A baru 50 persen.

Pernyataan diatas tertuang dalam laporan IHS Markit dengan judul 4G Strategies Global Service Provider Survey.Dikutip dari Telecompetitor.com (23/8/2016), dalam laporannya HIS Markit juga diungkap tren di dunia operator yang relatif cepat bermigrasi dalam penggelaran jaringan LTE, ini dilakukan dengan model mengambil keuntungan dari pola carrier aggregation.

Jika mengacu pada data terbaru dari GSA (Global mobile Suppliers Association), saat ini terdapat 521 operator seluler di 170 negara yang menjalankan layanan LTE, LTE-A dan jaringan LTE-Advanced Pro. Jumlah operator yang bergabung dalam payung layanan LTE pun akan bertambah menjadi 560 operator pada akhit tahun ini. Dari jumlah tersebut, GSA menyebut 147 diantaranya mengoperasikan LTE-A dan sembilan operator akan berjalan di LTE Advanced Pro. Meski tren 4G LTE terus meningkat, namun penyebaran LTE bukan tanpa tantangan, dari hasil survei HIS Markit diketahui tantangan terbesar ada pada masalah upgrade dan standards compliance.

Dari aspek penggelaran layanan LTE, ada beberapa fitur favorit yang sering digunakan kebanyakan operator seluler, seperti inter-band carrier aggregation yang diikuti dengan enhanced inter-cell interference coordination dan LTE-A coordinated multipoint. Terkait teknologi agregasi pada LTE, operator Sprint di AS pada 15 Agustus lalu berhasil menguji penggunaan three-channel carrier aggregation dengan smartphone HTC 10, dan lewat agregasi di tiga kanal didapat kecepatan data 295 Mbps.

IHS Markit juga melaporkan tentang tren LTE-U (Unlicensed), dipaparkan penggunaan spektrum tanpa lisensi ini telah meningkat dalam 12 bulan terakhir. Lebih dari 50 persen responden berencana untuk menggelar LTE-U pada tahun 2018. Tekanan kompetisi pasar mendorong mereka mengambil keuntungan dari sebanyak mungkin spektrum yang dapat diraih untuk unggul dalam persaingan.