ArenaLTE.com – Kehadiran layanan 4G LTE di Indonesia menjadi angin segar bagi penyedia layanan konten yang membutuhkan akses internet yang cepat. Salah satu konten multimedia yang diprediksi akan menjadi promadona dari kehadiran 4G LTE ini adalah streaming video. Hampir semua penyedia layanan mulai fokus dengan konten video, jika kita melihat postingan sosial media seperti facebook, twitter hingga layanan chatting didominasi oleh konten video.

Layanan streaming video pun tersu bermunculan mulai dari layanan live video streming yang disediakan oleh Facebbok Live juga Periscope buatan twitter. Layanan streaming video on demand juga muali bermunculan di Indonesia, diawali dengan Netflix kemudian XL meluncurkan Tribe, lalu muncul HOOQ dan yang terbaru adalah VIU yang menawarkan konten film box office dan film serial yang bisa dinikmati kapanpun dan dimanapun melalui smartphone.

layanan streaming video hooq (2)

Namun apakah benar konten video akan menjadi layanan primadona di jaringan 4G LTE? Guntur Siboro, Country Head HOOQ Indonesia dalam seminar Indonesia LTE Conference 2016 yang diadakan oleh ArenaLTE beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa tak bisa dipungkiri, layanan video streaming dan video on demand benar-benar membutuhkan akses internet yang cepat dan alokasi bandwidth yang sangat besar hal ini sangat relevan dengan hadirnya layanan 4G LTE.

Ketika operator menyediakan layanan 4G LTE, dan OTT seperti twitter,Facebook dan lain-lain itu seperti menyediakan stadion besar namun penontonnya sedikit, atau jalan tol yang besar namun kendaraan yg lewat sedikit. Jadi bisa dibilang konten multimedia video streaming atau video on demand aplication ini merupakan native aplication untuk 4G LTE.

Ada beberapa fakta yang menarik, menurut data dari Cisco Visual networking Index di Inonesia pada tahun 2013, 40% video trafik di Indonesia berasal dari internet. Dan tahun ini diperkirakan akan ada sekitar 2/3 trafik internet indonesia itu adalah video. Karena konten video ini adalah butuh bandwidth besar, jadi konten yang paling banyak dibawa oleh operator di jaringan 4G LTE nya adalah konten video.

Lebih jauh Guntur mengungkapkan bahwa, menurut mildward brown media research, orang Indonesia menghabiskan waktu 9 jam perhari untuk konsumsi video baik TV, smartphone, Tablet, komputer dan lain-lain. Dan video konsumption Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia bahkan lebih tinggi 25% dari korea dan jepang. Data lain juga menunjukkan bahwa 65% pelanggan mobile melakukan video sharing dan 32% melalui facebook Dan 96% mengatakan youtube menjadi sarananya.

Indonesia LTE Conference 20Lebih jauh Guntur mengungkapkan bahwa, menurut mildward brown media research, orang indonesia menghabiskan waktu 9 jam perhari untuk konsumsi video baik TV, smartphone, Table, komputer dan lain-lain. Dan video konsumption Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia bahkan lebih tinggi 25% dari korea dan jepang. Data lain juga menunjukkan bahwa 65% pelanggan mobile melakukan video sharing dan 32% melalui facebook Dan 96% mengatakan youtube menjadi sarananya.

Namun bukan berarti tanpa tantangan, penyedia layanan video on demand menghadapi tantangan dari kebiasaan pengguna yang lebih gemar menikmati layanan video gratis. Tantangan terbesar adalah merubah budaya kebiasaan menonton video gratis menjadi video berbayar dengan jaminan kualitas yang lebih baik.

Ada fakta lain juga yang menjadi tantangan yaitu 85% video yang ditonton biasanya video pendek kurang dari 10 menit. Menurut data pelanggan HOOQ yang sudah meluncur selama sebulan di Indonesia, terungkap bahwa rata-rata usage video HooQ di Indonesia sekitar 30 menit perhari. Meskipun lebih panjang dari video pendek namun penonton video ini diprediksi menggemari film seri yang biasanya 20-30 menit karena film layar lebar lebih dari satu jam.

HOOQ berharap ekosisten 4G LTE terus tumbuh, perangkat smartphone 4G LTE juga semakin banyak beredar dengan harga yang terjangkau dan berkualitas baik, namun alangkah baiknya vendor memperhatikan mengenai daya tahan baterai smartphone yang kuta karena streaming video konten ini cukup membutuhkan energi yang besar.

Harapan lain agar video konten ini semakin menjadi primadona yaitu semakin berkembangnya industri kreatif di Indonesia untuk film. Karena film Indonesia yang hanya mengandalkan bioskop saja bisa kini bisa memanfaatkan layanan video konten dan video on demand sebagai sarana berjualan mereka yang baru.

Dan yang terpenting adalah harga kuota internet dari operator yang semakin murah, karena sebuah film layar lebar dengan kualitas yang paling jelek adalah 300 MB. Semoga kedepannya operator bisa memberikan diskon atau akses unlimited untuk konten tertentu seperti misalnya video, tidak hanya jaringannya namun juga harga yang terjangkau.