ArenaLTE.com – Google menyatakan menentang upaya FCC (Federal Communications Commision) yang akan memberikan spektrum untuk platform LTE Unlicensed (LTE-U). Selain Google, para penentang LTU-U melibatkan perusahan-perusahaan besar, seperti Boingo Wireless, Broadcom, Hewlett-Packard Enterprise, konsultan Paul Nikolich, Ruckus Wireless dan sebagainya. Mereka tergabung dalam America’s National Cable & Telecommunications Association (NCTA).

Akar penyebab penolakan adalah LTE Unlicensed memanfaatkan frekuensi unlicensed untuk menggeber jaringan LTE tersebut, yaitu di spektrum 2,4 dan 5 GHz yang biasanya dipakai oleh WiFi. Bukan memakai frekuensi jaringan seluler pada umumnya, seperti 900 MHz, 1.800 MHz, 2.100 MHz dan lainnya. “2,4 GHz sebenarnya sudah terlalu padat, sementara di 5 GHz masih agak kosong. Penentangan mereka secara substansial menegaskan klausul NCTA sebelumnya – bahwa platform LTE-U bertentangan dengan standar 3GPP dan IEEE, dan bahwa mereka sedang mengembangkan teknologi tanpa melakukan peer review.

Sementara di lain pihak, LTE Unlicensed kehadirannya mendapat sokongan penuh dari Qualcomm, Verizon, Alcatel-Lucent, Ericsson, dan Samsung. LTE Unlicensed adalah salah satu teknologi yang dibenamkan Qualcomm di chip modem X12. Cristiano Amon, Executive VP & Co-President Qualcomm mengatakan bahwa Qualcomm melihat bagaimana dua teknologi itu (WiFi dan LTE) bisa bekerja secara beriringan demi memberikan user experience yang lebih baik. Hasil tes Qualcomm menunjukkan bahwa LTE-U bisa jadi pasangan yang lebih baik bagi WiFi dalam hal kecepetan akses ketimbang WiFi itu sendiri.
Baca: Qualcomm Snapdragon 820 Bisa Agregasi Jaringan LTE Dengan LTE-Unlicensed (LTE-U)

Dalam pemasarannya, Qualcomm akan bekerja sama dengan network operator untuk mengedukasi pasar yang selama ini mungkin bergantung pada WiFi dalam hal saving kuota dan paket pulsa.

Bagaimana sekiranya LTE Unlicensed diimplementasikan di Indonesia? Jawabannya sangat mungkin terjadi, mengingat spektrum yang sangat terbatas, maka ini adalah teknologi yang paling efisien untuk diterapkan di Indonesia, agar memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna. Namun kembali lagi implementasi LTE-U perlu regulasi untuk menghindari interference. Kabarnya pihak operator seluler di Indonesia sudah mengaku tertarik dengan teknologi LTE-U ini. Karena diharapkan bisa mengatasi kepadatan jaringan yang terjadi di banyak kota besar di Indonesia.