ArenaLTE.com – Di tengah berkembangnya era Internet of Things (IoT), urusan keamanan data menjadi isu yang krusial, mengingat tren penyimpanan data kini bergeser ke platform cloud storage. Terkait dengan keamananĀ  data, belum lama ini operator secure data center, Artmotion, merilis informasi yang menarik untuk dicermati, disebutkan bahwa hanya empat negara di Asia yang benar-benar dianggap aman untuk penyimpanan data.

Informasi yang dirilis Artmotion berasal dari penggabungan data independen dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), World Economic Forum, Transparency International, dan beberapa kelompok privasi terkemuka lainnya. Laporan Artmotion yang diberi judulĀ  “Data Danger Zones” menganalisa peringkat keamanan data berdasarkan pemindaian di lebih dari 170 negara. Parameter yang diambil adalah kemampuan mereka dalam penyimpanan informasi digital, dan tentunya harus private dan secure.

Dari laporan tersebut, peringkat negara teratas dalam solusi keamanan data dipegang oleh Swiss, negara di Eropa Tengah ini disebut punya potensi risiko dengan skor hanya 1,6 persen. Bagaimana dengan Asia? Ternyata Singapura adalah nagara paling aman untuk penyimpanan data di Asia, dengan skor 1,9 persen. Singapura meraih skor ini berdasarkan penerapan undang-undang privasi independen dan situasi politik yang kondusif. Masih di Asia, Hong Kong ada di peringkat lima, Taiwan peringakt enam, sementara Inggris dan Amerika Serikat masing-masing di peringakt 23 dan 38.

Di Asia, masih ada negara-negara besar dan berpengaruh terkait perkembangan teknologi, sebut saja Cina dan India. Nyatanya Cina hanya ada di peringkat 50 dan India di peringkat 107. Dikutip dari Telecomasia.net (12/8/2016), ahli data center Mateo Meier ikut mengomentari laporan dari Artmotion, “Kita begitu mudah memilih layanan cloud storage dan cloud computing, namun banyak yang melupalan pentingnya kehadiran penyimpakan data secara fisik. Di era saat ini, perlu juga dipertimbangkan kebijakan pengaturan privasio, dan faktor-faktor lain, seperti kondisi politik, lokasi geografis, dan ketersediaan infrastruktur fisik,” ujar Mateo. Dalam melakukan studi, Artmotion telah memeriksa lebih dari 3,5 triliun alamat IP (internet protocol) di 170 negara.