ArenaLTE.com – Comcast, perusahaan telekomunikasi kabel asal AS, dikabarkan akan terjun ke bisnis layanan seluler lewat model MVNO (Mobile Virtual Network Operator). Seperti dikutip dari Ubergizmo.com (22/10/2015), Comcast akan meluncurkan layanannya dalam skema hybrid yang bersadar pada tebaran jaringan WiFi dan jaringan seluler Verizon. MVNO di AS bukan model bisnis baru lagi, tapi paduan MVNO dengan campuran jaringan WiFi menjadi model yang pertama di AS, khususnya di jaringan Verizon.

Dirunut dari sejarahnya, Comcast telah mencapai kesepakatan dengan Verizon pada tahun 2011, saat Comcast menjual layanan seluler Big Red. Dari perjanjian tersebut, Comcast dipercaya untuk mewujudkan perjanjian tersebut setelah tiga tahun masa penandatanganan. Perjanjian tersebut memungkinkan Verizon untuk membeli spektrum dari konsorsium perusahaan kabel yang meliputi Time Warner Cable, Comcast dan Bright House Networks. Verizon juga bisa menjual kembali produk kabel dibawah kesepakatan ini.

Comcast belum secara resmi mengomentari masalah ini tetapi laporan lain mengklaim bahwa CFO Verizon Fran Shammo dalam pembicaraan terakhir dengan investor telah diberitahu bahwa perusahaan kabel akan mengeksekusi kesepakatan MVNO mereka. Jaringan kabel raksasa dapat mengandalkan jaringan yang luas dari hotspot WiFi yang dipadukan dengan jaringan Verizon untuk menawarkan cakupan layanan nasional, menggeser beban besar ke jaringan Wi-Fi serta memungkinkan pengguna untuk menyimpan data mereka, dengan demikian akan membua layanan seluler Comcast hadir jauh lebih menarik. Tapi sejauh belum ada informasi kapan layanan ini akan secara resmi diluncurkan.

MVNO adalah penyelenggara layanan jasa telekomunikasi bergerak (seluler atau FWA) dalam bentuk suara dan data, dimana penyelenggara tersebut tidak memiliki izin atas spektrum frekuensi atau lisensi jaringan akses, tetapi dapat menyewa atau memakai spektrum frekuensi milik Mobile Network Operator (MNO) melalui suatu perjanjian bisnis.

Menurut catatan, di Indonesia terdapat lima operator seluler dengan teknologi Global System for Mobile (GSM), lima operator berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA), dan beberapa di antaranya sudah memiliki lisensi seluler nasional. Jumlah operator di Indonesia tersebut tergolong banyak, jika dibandingkan dengan negara lain yang rata-rata hanya memiliki tiga operator. Hal ini membuat persaingan bisnis telekomunikasi di Indonesia sangat ketat dan membuat tarif menyentuh batas terendah meski dari sisi margin pendapatan usaha masih cukup tinggi.