ArenaLTE.com – Belanja pulsa yang dilakukan oleh pelanggan seluler, baik untuk biaya akses layanan 4G LTE maupun telefon dan SMS saat ini, diungkapkan Ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Alex Rusli, lebih diminati dibanding dengan melakukan investasi emas. Terutama, hal tersebut lebih banyak dan sering dilakukan oleh pengguna Indonesia Timur maupun masyarakat di pinggir kota.

Hal tersebut juga membuktikan bahwa merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, tidak berdampak atau berpengaruh besar pada bisnis telekomunikasi. Karena menurut data yang di dapat oleh ATSI, pengguna akan tetap melakukan pembelian pulsa yang lebih dianggap memiliki nilai penting saat ini.

“Daya beli masyarakat masih tinggi, sehingga kenaikkan dolar tidak berpengaruh besar dalam jangka pendek dan secara benefit terhadap perusahaan telekomunikasi. Masyarakat yang beli pulsa ya tetap beli, yang pakai ya tetap pakai,” jelas Alex Rusli, dipembukaan acara Diskusi Telko di Tengah Turbelensi Mata Uang, di Kemkominfo, Jakarta, Senin (7/9/2015).

Kebutuhan akan pulsa dianggap penting, dibanding dengan kebutuhan lain. Bahkan, Alex menyatakan bahwa masyarakat sekarang lebih mendahulukan membeli pulsa, dibanding harus membeli roko dan makanan.”Bahkan, saat ini pengguna akan lebih mementingkan pulsa, jika dibandingkan untuk berinvestasi pada pembelian emas,” jelas Alex yang juga masih menjabata CEO Indosat.

Tarif Biaya Telekomunikasi Indonesia Lebih Murah

Ketua ATSI Alex Rusli saat diskusi telekomunikasi di Gedung  Kominfo, Jakarta.
Ketua ATSI Alex Rusli saat diskusi telekomunikasi di Gedung Kominfo, Jakarta.

Tarif telekomunikasi Indonesia diklaim oleh Alex Rusli lebih murah dibanding dengan negara global lainnya, bahkan jika dibandingkan dengan India biaya itu tiga kali lebih murah meski sebenarnya infrastruktur pembangunan untuk broadband  di Tanah Air lebih mahal di banding negara tersebut.

“Dibanding dengan negara India, biaya tarif telekomunikasi memang jelas lebih murah tiga kali lipat. Karena infrastruktur Tanah Air pembangunannya lebih mahal, karena geografis yang letaknya lebih jauh dibanding negara tersebut,” jelas Alex Rusli menjelaskan.

Dirinya juga mengungkapkan bahwa layanan 4G LTE sebenarnya bukan teknologi baru, hal tersebut sebenarnya adalah update dari teknologi dan peralatan lama. Sehingga ada operator yang hanya melakukan upgrade peralatan, untuk mengurangi peningkatan pada biaya infrastruktur.

“Perpindahan dari teknologi 3G ke teknologi generasi keempat 4G LTE, memang lebih murah dilakukan dengan teknologi yang sama. Hanya peralatan tersebut perlu di upgrade,” jelasnya. Dirinya juga menuturkan bahwa Indonesia yang saat ini sedang dikejar pertumbuhan broadband-nya, akan diperkirakan meningkat dalam penggunaan smartphone terutama untuk ponsel 4G.

”Dari data yang ada saat ini, terlihat perkembangan smartphone sudah mencapai 60 persen, meski tidak ada nilai data untuk kedepannya nanti. Namun pertumbuhan tersebut akan meningkat hingga mencapai 70 persen untuk smartphone dan 30 persen untuk featurephone,” jelas Alex.