ArenaLTE.com – Kecepatan bukan menjadi salah satu tujuan utama yang diinginkan Smartfren. Namun operator anak perusahaan Sinar Mas tersebut lebih fokus pada kestabilan akses internet 4G LTE. Munir S.P, Head of Network Special Project Smartfren, mengungkapkan hal tersebut juga menjadi strategi perusahaan dalam menggelar layanan 4G LTE.

Dalam sesi diskusi singkat di acara drive test jaringan 4G Smartfren wilayah Cirebon – Bandung, Selasa (8/9/2015), Munir S.P menjelaskan bahwa perusahaan telah resmi meluncurkan layanan 4G LTE untuk 22 kota. Semua dibuktikan dengan baik karena ada produknya, bukan sekadar klaim biasa. Namun, perihal akses internet 4G LTE yang diberikan Smartfren untuk pelanggan, saat ini lebih ditekankan pada hal lainnya dibanding pada kecepatan.

“Kami tidak ingin kecepatan menjadi ajang ukuran kepada pelanggan sebagai layanan. Namun, hal lainnya adalah stabil, dan penggunaan yang nyaman diberikan smartfren. Seperti halnya penggunaan mobil cepat Ferrari yang bisa mencapai kecepatan maksimal, namun dalam kondisi yang seperti apa,” jelas Munir.

Dirinya mengibaratkan seperti halnya penjualan mobil Lamborghini dan Ferrari, semua tau bahwa kedua mobil ini memiliki kecepatan maksimal. Namun, bagaimana kecepatan tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik.

“Seperti halnya kegunaan 4G yang sudah tau bahwa ini lebih cepat dari 3G, namun sangat baik dimanfaatkan untuk apa, misal untuk penggunaan video streaming. Jika hal tersebut lebih utama saat ini, maka kestabilan adalah parameter ukuran yang tepat diperhitungkan saat ini,” tambahnya.

Kecepatan Yang Dibutuhkan Pengguna

Paramater kestabilan yang digunakan, memang tidak hanya ditentukan dari  dari tidak ada buffering menonton video secara streaming. Namun, akses internet tanpa putus tersebut bisa diukur dari lancar mengakses internet.

“Untuk menyediakan akses internet 4G LTE kepada pelanggan, Smartfren memiliki dua frekuensi jaringan yang dikombinasikan. Yaitu FDD (Frequency Division Duplexing) di 850 MHZ dan untuk TDD (Time Division Duplexing) di frekuensi 2.300 dengan coverage yang besar. Maka tentunya, stabil jaringan merupakan hal utama bagi kami,” jelas Munir.

Lanjutnya menjelaskan bahwa untuk mengukur kestabilan memang harus ada pengontrolan penuh, range untuk kontrol tersebut harus disetting perusahaan dengan pengaturan FDD 2 hingga 10Mbps. Sedangkan untuk teknologi TDD berada di kecepatan 2 hingga 100Mbps.

“Adu cepat tidak ada direct relation-nya dengan manfaat ke pelanggan, saling klaim adu cepat kepada pelanggan itu tidak ada gunanya. Daerah padat seperti Jakarta sendiri, kestabilan 2 hingga 10Mbps tadi itu, sudah cukup memenuhi kebutuhan akses penggun,” pungkas Munir.