ArenaLTE.com – Serangan cyber menjadi poin penting dalam babak Perang Dingin jilid dua antara Amerika Serikat dan Rusia. Dan berita terbaru menyebut pemerintah AS secara resmi menuding otoritas Rusia berada di balik serangan cyber terhadap institusi AS, termasuk Komite nasional Demokrat dan kampanye Hillary Clinton.

Pejabat intelijen Amerika Serikat selanjutnya mengatakan kepada NBC News, CIA siap melancarkan serangkaian serangan cyber balasan yang dirancang khusus untuk melumpuhkan kemampuan Rusia jelang Pemilu Presiden AS pada bulan depan. Menurut NBC News yang dikutip dari Ubergizmo.com (16/10/2016), sumber CIA mengatakan operasi itu mulai berjalan dan sudah memilih target untuk menyiapkan operasi selanjutnya.

“Kami sedang mengirim pesan kepada Putin dan kami yang tentukan kapan serangan itu akan terjadi. Dampaknya akan besar,” terang Wakil Presiden Joe Biden dua hari lalu. Para mantan pejabat dan mereka yang masih bekerja di CIA saat ini mengatakan, pemerintah sudah menanyakan opsi seranan siber secara klandestin untuk mempermalukan pemerintah Rusia. Sejumlah pejabat yang tak mau disebutkan namanya kepada NBC News mengatakan, CIA sudah membuat pintu-pintu operasio siber, memilih sasaran dan membuat persiapan operasi.

Ilustrasi cyber security Amerika (Foto: businessinsider.com)
Ilustrasi cyber security Amerika (Foto: businessinsider.com)

Sumber itu mengatakan, CIA sudah mengumpulkan informasi yang berpotensi untuk mengekspos kesalahan yang dilakukan Presiden Rusia Vladimir Putin. Rencana ini menyusul upaya kelompok peretas yang didukung pemerintah Rusia yang berujung bocornya ribuan surat elektronik yang dikirim anggota senior Partai Republik. Seorang peretas yang dikenal dengan nama Guccifer 2.0 merilis ribuan email antara para anggota senior Komiter Nasional Demokratik (DNC) beberapa hari sebelu konvensi digelar.

Dalam ribuan surat elektronik itu mereka mendiskusikan cara untuk menggagalkan rencana Senator Bernie Sanders untuk mencalonkan diri sebagai preside. Pengungkapan ini berujung dengan pengunduran diri ketua DNC, Debbie Wasserman Schultz. Kelompok peretas lainnya, DC Leaks, diyakini mendalangi pembocoran rincian paspor milik Michelle Obama. Kelompok ketiga, Fancy Bears, diyakini mencoba mengganggu pemilihan umum Iggris pada 2015.

Saat itu, Fancy Bears berpura-pura menjadi kelompok militan Islam meretas server milik sebuah stasiun televisi ternama. Sebagai respon atas ancaman itu Kementerian Pertahanan Rusia balik mengancam akan menembak jatuh jet tempur Amerika Serikat yang akan melancarkan serangan terhadap pasukan Presiden Suriah Basyar al-Assad. “Rusia sudah memperingatkan mereka telah menempatkan senjata pertahanan udara S-300 yang punya kemampuan menembak jatuh jet tempur Amerika Serikat. Setiap serangan terhadap pasukan pemerintah Suriah adalah serangan terhadap Rusia, kata mereka,” terang pernyataan itu.

Perlu diketahui, hubungan Amerika Serikta dan Rusia saat ini adalah yang terburuk sejak Perang Dingin. Kedua kubu punya kepentingan berbeda di negara yang sedang dilandak konflik serius, Suriah.